REVITALISASI: MENYIAPKAN PEMIMPIN MUDA PERUBAHAN INDONESIA

Oleh: Anggel Dwi Satria

 Bangkit itu, Tidak ada…

Tidak ada kata menyerah, Tidak ada kata putus asa.

Bangkit itu aku. Aku untuk Indonesia-ku”—Dedy Mizwar

 

Prolog yang sederhana: Menyoal dan Mengenal Indonesia

Sebenarnya dengan legitimasi rakyat yang dimilikinya, kata pakar ekonomi Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di taman Ismail Marzuki, bangsa ini mestinya lebih percaya diri menghadapi tekanan dunia luar- termasuk IMF, Bank Dunia, dan WTO. Masih banyak opsi yang tersedia untuk menyelesaikan keterpurukan bangsa ini. Menurut Menko Perekonomian pada masa kabinet Persatuan Abdurahman Wahid-Megawati itu, Indonesia bisa mencoba mengikuti jejak Pakistan, Nigeria, atau Argentina, yang cerdas dan piawai melepas cengkraman penghisap darah IMF cs dari negaranya. Tanpa terobosan seperti itu, solusinya menjadi parsial dan memakan waktu.

Lebih setengah abad lamanya, bangsa ini telah Merdeka dari penjajahan yang mengeruk segala daya dan jiwa bumi pertiwi Indonesia. Namun rupanya masyarakatnya lelap tertidur menikmati masa-masa yang dianggap terbebas itu. Bagaimana mungkin bisa dikatakan bebas kalau ternyata rakyatnya masih belum mendapatkan keamanan, kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan yang utuh diatas tanah bangsanya yang melimpah kekayaan sumber daya alam. Bagaimana mungkin secara sadar kita katakan sudah bebas dari keterjajahan kalau diusia Negara yang sudah renta ini, pendapatan perkapita rata-rata kita sekarang hanya sekitar US$ 900/tahun atau Rp. 9.000.000/tahun, sedangkan Negara-negara sosialis/komunis saja pendapatan per kapitanya rata-rata mencapai US$1.000/tahun atau Rp. 10.000.000/tahun, terlebih saat ini kita pun masih mempunyai hutang luar negri sekitar US$200 M (50 % pemerintah dan 50% Swasta), sehingga setiap tahun harus mengangsur atau mencicil pokok pinjaman dan bunga sekitar US$ 9 M.

Tak lama lagi rakyat kecil akan merasakan pil pahit. Bersamaan gulung tikarnya semua sentra-sentra industri kecil, yang banyak menyerap tenaga kerja. Pengangguran semakin berjibun. Orang miskin semakin berjejer-jejer, tanpa memiliki lagi harapan masa depan. Hal ini berkaitan dengan keputusan pemerintah, tentu dalam hal ini, pemimpin bangsa ini, yang menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-Cina (CAFTA).

Sejatinya Indonesia terlalu memaksakan diri ikut ke dalam sistem perekonomian dunia, tanpa disertai pertimbangan yang matang. Sektor ekonomi menengah ke bawah masih sangat rapuh. Hal ini sejak zaman Presiden Soeharto sampai Presiden SBY, sektor ekonomi menengah ke bawah tidak pernah dibangun dengan sungguh-sungguh. Justru sejak zaman Orba sampai sekarang ini, yang mendapatkan proteksi, modal, dan lisensi, adalah para pengusaha besar (konglomerat), yang sudah berubah menjadi kartel, dan menguasai jaringan usaha dari hulu sampai ke hilir.

Sementara itu, pengusaha menengah ke bawah, yang notabene jumlah banyak, sedikit mendapatkan sentuhan pemerintah, dan dibiarkan hidup dengan sendirinya. Pemerintah sejak zaman dinasti Soeharto sampai SBY, relatif sangat kecil porsi yang diberikan ke pengusaha menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, melalui aktivitas ekonomi di sektor riil. Pemerintah masih tetap bersikap konservatif, terus berkutat kebijakan pada sektor ekonomi makro. Sehingga dengan kebijakan seperti ini, sulit mengangkat kehidupan pengusaha menengah kecil.

Di tengah-tengah sektor ekonomi dari kalangan pengusaha menegah kebawah yang tersengal-sengal ini, pemimpin bangsa bersama dengan para pemimpin Asean menandatangani perjanjian CAFTA, yang akan berdampak secara langsung pada perekonomian rakyat, terutama usaha kecil. Indonesia hanya menjadi negara konsumen, yang menjual produk-produk barang-barang dari Cina. Aktivitas sektor indusrti kecil menengah akan punah dengan sendiri. Segala barang dari Cina masuk kedalam pasar domestik Indonesia, dari kota sampai ke desa-desa. Tak ada barier (hambatan) atau restrik (pembatasan) dengan adanya perjanjian itu.

Seharusnya pemerintah Indonesia melakukan proteksi terhadap industri dalam negeri Indonesia, dan melindungi industri dalam negeri yang masih jauh dari kemampaun melakukan persaingan ditingkat regional, termasuk menghadpai barang-barang Cina. Cina yang memiliki jumlah penduduk sebesar 1,3 milyar, seharusnya menjadi pasar barang-barang dari negara-negara Asean, tetapi kenyataannya, negara-negara Asean yang menjadi tempat pembuangan barang-barang yang diproduksi oleh Cina.

Belum tnyas satu masalah munculah masalah baru. Marilah kita kembali melihat Kasus Freeport yang semakin mencengkram SDA Tembaga dan Emas di Papua, bahkan kehidupan rakyat serta kehidupan hayati dan hewani disekitar perusahaan tambang Emas raksasa tersebut. Catatan dari perhitungan Greenomics menunjukkan bahwa pengoperasian Freeport dari di sekitar tahun 1992 sampai 2005 telah merusak lingkungan dengan kerugian sekitar 67 triliun, sedangkan keuntungan negara yang hanya berasal dari royalti dan pajak di tahun tersebut 36 triliun. Jelas tidak ada keuntungan yang berarti buat negara, namun sebaliknya justru kerugian yang diperoleh. Ditambah lagi tidak adanya saham negara di perusahaan tersebut. Inilah bentuk ketidak adilan sistem kapitalis global yang disponsori oleh Amerika. Meskipun gunung-gunung di Papua telah disulap menjadi lahan bopeng, tetapi rakyat papua tidak dapat menikmati hasil kekayaan alamnya. Keuntungan eksploitasi alam hanya dinikmati oleh freeport yang nota bene milik perusahaan tran-nasional Amerika dan Pemilik Saham seperti Bakrie Group misalnya.

Di Cepu, sebuah kawasan perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan jawa Timur, juga pernah terjadi sengketa bisnis global yang cukup rumit. Blok Cepu yang menjadi incaran ExxonMobile, menjadi rebutan. Namun, kekuatan kapitalisme global, dalam hal ini melalui perusahaan Exxon Mobile, berhasil menguasai sumber minyak yang diprediksikan mampu menghasilkan 25 ribu barel per hari itu.

Sungguh aneh, meskipun Pertamina berhasil menguasai saham terbesar, namun otoritas menajemen pengelolaan minyak Blok Cepu justru diserahkan pada Exxon Mobile, lebih memprihatinkan adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah Indonesia (Pertamina) dan Exxon Mobile dilakukan sehari sebelum kunjungan mantan Menlu AS, Condoleeza Rice. Hal ini jelas menimbulkan spekulasi, apakah Indonesia telah didikte oleh kekuatan asing? Lantas, muncul sebuah pertanyaan, dimanakah letak kewibawaan bangsa Indonesia sebagai negara berdaulat?

Di Indonesia, kekuatan korporasi-korporasi Internasional meliputi 6 titik strategis. Keenam titik tersebut adalah: Mobile oil di Aceh, Unocal di Ambalat, Newmont di Minahasa dan Sumbawa, Freeport di Papua, dan Exxon Mobile di Cepu. Indonesia telah dikepung oleh kekuatan korporasi internasional yang kemudian menghapus otoritas negara dalam menentukan kebijakan. Secara tidak langsung, Indonesia telah dijajah secara sistematis.

Jika mencermati fenomena kapitalisme global yang menjerat negara-negara dunia ketiga yang berdaulat, terdapat sebuah indikasi bahwa dengan berpindahnya otoritas suatu negara pada kekuatan korporasi internasional menjadi pertanda “matinya sistem demokrasi di dunia”. Kekuatan kapitalisme global telah mengabaikan otoritas suatu negara yang dibentuk berdasarkan aspirasi rakyatnya, namun dalam menentukan kebijakan-kebijakan harus didikte oleh korporasi-korporasi internasional. Mestinya, kebijakan-kebijakan suatu negara tetap dalam tiga siklus, yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun dari kasus freeport dan blok cepu, justru siklus kebijakan dimulai dari kepentingan kaum kapitalis, dikerjakan oleh rakyat Indonesia, dan dikembalikan keuntungan sebesar-besarnya kepada mereka yang memiliki modal (kapitalis). Inilah bentuk eksploitasi yang sistematis dengan asing sebagai kekuatannya.

Di samping itu, dari kasus Freeport dan Blok Cepu, terdapat isyarat bahwa kewibawaan Bangsa Indonesia telah hilang akibat intervensi kekuatan asing yang dengan mudah mempengaruhi kebijakan dalam negeri. Bagaimana mungkin persengketaan Blok Cepu yang cukup alot dan berlangsung cukup lama dapat teratasi dalam sehari sebelum kunjungan mantan Menlu AS. Meskipun pemerintah berkali-kali melakukan pembelaan, bahwa kebijakan Blok Cepu tidak terkait dengan kedatangan mantan Menlu AS.

Kembali peran kaum muda sangat diharapkan bisa membantu dalam memecahkan persoalan-persoalan kebangsaan mutakhir. Cita-cita kemerdekaan yang didengungkan pada isi pembukaan UUD 45 belum sepenuhnya dirasakan. Kemerdekaan secara de jure benar telah kita peroleh, namun secara de facto kita masih terjajah tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara pemikiran dan moral, bangsa kita masih tercabik-cabik. Betapa kenyataan secara ekonomi bangsa kita telah lama berhadapan dengan problem kekuatan Neo-Liberalisme. Kehadiran perusahaan-perusahaan transnasional yang telah banyak mengeksploitasi kekayaan alam bangsa kita.

Amin rais (2008) telaah mengingatkan bangsa ini bahwa sekalipun kaum imperialis telah hengkang dari bumi pertiwi, tetapi jaring laba-laba imperialisme masih mengangkangi kedaulatan bangsa. Mereka bukan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau kompeni, tetapi telah bermetamorfosa dalam bentuk korporasi besar transnasional.

“ …perlahan-lahan tapi pasti, kita tengah menyaksikan diseluruh dunia terjadinya proses pengambilan kekuasaan dan otoritas negara oleh kekuatan korporasi-korporasi trans-nasional”, demikian pernyataan Dr. Nasikun dalam sebuah diskusi digedung pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pertengahan tahun 2005.

 

Melahirkan Kaum Pimimpin Bangsa

Disini kemudian perlu kiranya kembali peran, keterlibatan dan konstribusi kaum muda. Momentum Reformasi (1998) mestinya menjadi pintu gerbang Indonesia menuju kehidupan berbangsa yang lebih baik. Tetapi setelah melewati kurang lebih tiga belas tahun, tampaknya masih banyak agenda reformasi yang tercecer. Reformasi belum mampu menjadi paradigma baru bagi proses pembangunan melalui politik dan ekonomi. Proses Reformasi baru menyentuh sebahagian wilayah politik, namun belum sampai menjamah ke wilayah ekonomi bangsa.

Dengan kondisi yang ada, maka selayaknyalah peran penting kaum muda untuk kembali ke gelanggang perubahan. Bukan saatnya lagi sekadar mengandalkan kepemimpinan kaum tua. Bangsa ini sedang menunggu peran kepemimpinan kaum muda yang senantiasa Visioner, tidak status quo.

Sebelum meletakkan peran, kita perlu dahulu faham akan realitas kaum muda saat ini pula. Kemampuan melahirkan pemimpin baru dari kaum muda perlu disetting secara sistematis, sehingga lahirnya pemimpin dari kaum muda tidak hanya selalu menanti datangnya momentum yang membuat lahirnya sense perubahan melalui kepemimpinan, namun akan lahir selalu pemimpin visioner yang kontinyu tak kenal menunggu datangnya momentum. Harus ada mesin pencetak yang diciptakan untuk lahirnya para pemimpin-pemimpin muda. Sehingga rombongan kepemimpinan tersebut mampu linear dengan kebutuhan dan tantangan bangsa Indonesia saat ini dan masa depan.

Format mesin pembaharu tersebut memiliki output yang kelak mampu menghadirkan generasi pemimpin muda yang bersifat dinamis mengikuti dinamika zamannya. Karena saat ini adalah eranya globalisasi, dengan kecanggihan teknologi Informasi sekarang ini, hampir semua lini kehidupan yang ada di dunia ini mampu diakses dan diperoleh dengan sangat mudah dan cepat. Era ini memiliki dua efek pengaruh perubahan bagi peradaban manusia itu sendiri, bisa berefek negatif maupun sebaliknya. Tak berelak kaum muda adalah sasaran besar pengaruh era ini. Jika dahulu, musuh secara fisik mampu tertangkap dengan hanya indra penglihatan saja. Pada era ini hampir semua musuh yang menghancurkan, tak kasat mata. Namun efeknya secara perlahan mampu menghilangkan identitas sebuah bangsa.

Dalam sebuah paper dengan judul “Suatu Filosofi untuk Masa Depan Menuju Kebudayaan yang Inklusif”, Sutan Takdir Alisjahbana, menulis : “Dewasa ini, kecepatan transportasi dan komunikasi sebagai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat menimbulkan suatu proses Globalisasi di dunia yang mengakibatkan segala sesuatu tampaknya berada di depan kita dan kita tak terhindar lagi dari penyatuan bangsa dan kebudayaan di planet kita yang seolah-olah semakin menyusut”. “Proses Globalisasi, mengakibatkan berbagai kebudayaan didunia bertemu bukan saja di kota besar, tetapi dimana-mana dengan adanya radio, televisi, surat kabar, dan media massa.”

Inilah fenomena global yang tidak asing lagi bagi kita, yang dinamakan dengan proses globalisasi. Melalui media saja, proses globalisasi seolah-olah tak terbendung lagi. Ya, kemajuan teknologi kini bagian yang tak terlepas pula dari kepentingan-kepentingan kapitalis, terutama teknologi informasi. Sulit tentu untuk dapat membendung pengaruh media teknologi informasi, sehingga tujuan utama kapitalis lewat media dalam melunturkan nilai dan identitas suatu bangsa dapat dengan mudahnya tercapai.

 

Penerus Bangsa: Kaidah Pemimpin Muda

Disinilah tantangan pemuda agar bagaimana mengetahui cara membentuk sistem yang mampu menciptakan produk kepemimpinan qualified sesuai zaman dalam era informasi. Namun, bukan berarti teknologi informasi sama sekali mesti dihindari. Sisi negatifnya, tanpa ada protektor dirilah yang membuat banyak kepentingan kapitalis goal dinegara-negara dunia ke tiga. Sebagai agen perubah, perubahan teknologi itu sendiri bukanlah sesuatu yang patut di phobiakan, karena setiap pembaharuan adalah harapan perubahan, termasuk dalam hal teknologi. Dengan sarana teknologi yang sama, outputnya tidak mesti sama, adalah kaidah pemanfaatan. Wawasan kebangsaan pun bisa saling di infokan lewat sarana tersebut. Jadi, yang mampu memanfaatkannyalah yang akan keluar sebagai pemenang di dunia informasi seperti saat ini.

Untuk itu ada beberapa hal yang menjadi pijakan penting bagi pemuda agar domain yang diharapkan darinya lahir rombongan kepemimpinan dapat terealisasi secara kontinyu tanpa terlalu berpengaruh pada perubahan zaman. Menurut Budayawan WS. Rendra, sebagai aktor dalam panggung sejarah, manusia dibekali “daya hidup” untuk menopang eksistensinya. Daya hidup manusia dalam perspektif kebudayaan meliputi: pertama, keharmonisan alam dengan irama kehidupan manusia; kedua, kesadaran menghayati dan mencerna pengalaman-pengalaman yang berarti; ketiga, kemampuan berorganisasi dan berkoordinasi; keempat, kemampuan beradaptasi; kelima, daya mobilitas; keenam, daya tumbuh dan berkembang; ketujuh, kemampuan regenerasi.

Hal pertama dalam kaitannya dengan kepemimpinan, dibutuhkan keseimbangan antara kuatnya pengaruh kepemimpinan dengan harmoni lingkungan disekitar ruang kepemimpinannya. Sunnatullah keseimbangan kehidupan manusia dengan memperhatikan keberlangsungan kehidupan alam sekitarnya, telah banyak memberikan pelajaran kepada kita, bahwa alam memiliki kekuatan untuk memberhangus segala sesuatunya yang tidak memperhatikan aspek kelestariannya. Juga, menurut pendapat Paulo Freira (2001) bahwa alam menjadi kebutuhan setiap manusia. Artinya, sebuah mesin pencetak kepemimpinan -pemuda- itu hanya akan bisa selalu eksis dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan sekitarnya yang menjadi patner aktor didalam menentukan model kepemimpinan ke-disini-an; teritorial. Misal, dalam hal kebutuhan kepemimpinan, tentu model pemimpin yang dibutuhkan Indonesia dengan medan rakyat yang heterogen dan sarat problematika, berbeda dengan kebutuhan pemimpin di negeri Jepang yang sudah stabil dalam berbagai hal, tinggal fokus di bidang penggarapan ilmu pengetahuan. Kepemimpinan yang mampu mengantarkan bangsa ini keluar dari kubangan problematika adalah kepemimpinan yang mengetahui dahulu akar permasalahan bangsanya. Besarnya keberagaman yang ada di Indonesia adalah tantangan bagi semua konsep kepemimpinan untuk kelak bisa menjadi referensi yang mampu mengantarkan Dunia keluar dari bahaya laten penjajahan Global.

Daya tahan sebuah mesin kepemimpinan -pemuda- juga sangat dipengaruhi oleh generasi muda yang tidak mudah melupakan proses/peristiwa masa lampaunya. Bila sebuah bangsa sudah mulai melupakan sejarahnya, tunggulah masa kehancurannya. Pengaruh yang menentukan besar kecilnya sebuah bangsa adalah kemampuannya dalam menghargai sejarah perjalanan masa lalunya. Bangsa kita telah banyak pula menghadirkan pemimpin-pemimpin yang disegani baik oleh rakyatnya maupun dunia pada eranya. Sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga bagi referensi dalam memformat kepemimpinan saat ini dan masa depan Indonesia dengan balajar dari sejarah kepemimpinan masa lalu. Proses pembelajaran masa lalu tidak hanya berkutat pada segala hal yang berkaitan dengan kebaikan-kebaikan kepemimpinannya, sebuah kesalahan kepemimpinan masa lalu adalah bagian dari sejarah berharga pula bagi format kepemimpinan masa depan.

Aspek ketiga yang penting bagi modal kepemimpinan adalah kemampuan dalam berkoordinasi dan berorganisai. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah tidak hanya satu pemimpin saja, tetapi rombongan pemimpin. Sehingga kemampuan koordinasi sangat dibutuhkan bagi salah satu skill kepemimpinan masa depan. Dalam ilmu managemen, koordinasi adalah tingkatan tertinggi dalam sebuah pengelolaan organisasi. Kalau berkumpul saja adalah baru sebatas pemenuhan fitrah manusia yang pada umumnya suka dengan kebiasaan berkumpul, memanajerialnya dalam suatu ikatan aturanlah, baru bisa disebut organisasi/komunitas/golongan, dimana ada pemimpin dan yang dipimpinnya. Sedangkan yang dimaksud dengan koordinasi disini adalah kemampuan mensinergikan organisasi-organisasi tersebut dalam pencapaian sebuah cita-cita besama dan kepentingan bersama. Modal kepemimpinan masa kini dan masa depan tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan berorganisasi dalam spektrum internal komunitas tersebut saja. Besarnya permasalahan dan tantangan kini dan masa depan membutuhkan banyak penyelesaian oleh rombongan para pemimpin yang memiliki kemampuan berkoordinasi. Dan inilah yang disebut dengan Amal Jama’i dalam Agama Islam. pelajaran penting yang bisa kita peroleh dari fenomena saat ini dalam melihat ekspansi kaum yahudi dalam visinya membangun tatanan dunia baru. Sangat sulit bagi kita untuk membedakan israel, Amerika, PBB, IMF, World bank, dll saat ini, yang ternyata muara dari semua itu adalah dibawah kepentingan Yahudi dalam menguasai dunia .

Pemuda sudah seharusnya memulai perannya tidak hanya sekadar sebagai agen of change, tetapi direct of change. Tidak lagi sekedar perubahan yang reaksioner, tetapi by design dengan renstra yang jauh kedepan serta terukur dengan baik. Sehingga cerita sejarah pemuda yang akan tercipta adalah sejarah konstribusi dan kepercayaan, sampai ruang teritorial dan waktulah yang akan menyatakan kelayakannya pemuda untuk kembali mengambil peran kepemimpinan Indonesia di masa depan.

Daya hidup yang keempat adalah kemampuan beradaptasi. Sebagaimana hukum alam, semua makhluk bumi di dunia ini yang tidak memiliki kemampuan beradaptasi, akan punah. Begitupun dalam hal keberlangsungan eksistensi manusia. Banyak kebudayaan dunia yang saat ini terhempas oleh perubahan zaman dikarenakan tidak mampu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungannya. Kemampuan merasionalkan keadaan adalah kelebihan yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia guna mampu mempertahankan kehidupannya, berbeda dengan hewan yang tidak memiliki kemampuan itu, sehingga wajar spesies hewan dimuka bumi ini sangat banyak yang telah punah. Kemampuan dan kelebihan yang ada pada manusia ini tentu diberikan dalam rangka mendukung eksistensinya di muka bumi. Demikian halnya dengan kebutuhan model kepemimpinan masa depan. Menurut Aristoteles 384-322 SM), manusia merupakan “makhluk sosial” (Zon Politicon). Ia menyimpulkan dari kemampuan manusia menggunakan akalnya dalam berinterkasi antar sesamanya, sehingga dari sana tercipta bahasa untuk saling berkomunikasi, tradisi, dan norma-norma. Model kepemimpinan masa depan adalah yang mampu mengelola potensi akal dan komunikasinya sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan kondisi zamannya. Disini tersemat kompetensi diplomasi dan jaringan adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Selain daya adaptasi, perlunya kaum muda untuk memiliki daya tumbuh, berkembang, dan mobilitas. Dari 200-an juta, hampir 40 persen penduduk Indonesia adalah kaum muda. Namun 37, 8 persennya adalah pengangguran (Drs. Syakhyan Asmara, 2008; Deputi Menpora). (Sinar Indonesia baru, 23/2/2008) Ada yang tidak imbang antara pertumbuhan dan mobilitas di tataran pemuda. Sebagai makhluk hidup, tumbuh dan berkembang adalah hal yang fitrah, dan merupakan bagian dari karakter dasar makhluk secara umum. Karunia akal-lah yang kemudian membuat manusia tumbuh, berkembang dengan dinamis, sehingga butuh daya mobilitas untuk menyeimbangkan ketiganya. Menjadi hal yang penting bagi pemuda untuk mulai memikirkan pengelolaan potensi besar yang ada padanya. Besarnya tingkat pertumbuhan perlu dilinearkan dengan pertumbuhan skill life. Besarnya amanat problematika yang hanya akan mampu di selesaikan oleh kekuatan pemuda, perlu di topang dengan kemampuan untuk mengatasi urusan/permasalahan dirinya dahulu. Sehingga tumbuh kesadaran bagi pemuda bahwa kehadirannya adalah solusi, dan bukan benang kusut yang hanya sibuk dengan pergolakan personalnya pribadi. Kesadaran akan kemampuan untuk memikul beban masyarakat banyak ketimbang pribadi adalah tabiat pemuda, dan kebutuhan format kepemimpinan masa depan bagi Indonesia. Bila hal ini dapat terpenuhi, pertumbuhan dan perkembangan pemuda yang dinamis akan mudah dimobilisasi guna memperbanyak tawaran alternative solusi bagi problematika bangsa di masa kini dan masa depan.

Dan yang terakhir adalah daya regenerasi. Sebagai makhluk hidup yang dikaruniai akal dan hati, tentu tujuan utama dari kemampuan regenerasi adalah dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup agar tidak punah. Berbeda dengan makhluk yang tidak memiliki akal, regenerasi yang ideal adalah yang ditopang dengan kemampuan untuk tidak hanya dalam rangka mempertahankan kehidupan, tetapi juga kehidupan yang memiliki aspek manfaat, bukan yang destruktif (bersifat merusak). Dalam memformat lahirnya generasi rombongan kepemimpinan masa depan, aspek kaderisasi adalah hal yang mutlak dimiliki pemuda untuk menggenerasikan estafet kepemimpinan yang suistainable dengan zamannya. Kita bisa belajar dari kaum Yahudi dalam menggenerasikan komunitasnya. Secara kuantitas, mereka adalah komunitas yang kecil di mata dunia, jumlah hanya 14 juta orang, sedangkan bila dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia, katakanlah penduduk yang beragama Islam, perbandingannya 1 : 110, dengan total jumlah penduduk Islam dunia yang 1,5 Milyar. Tetapi pengaruh cengkramannya dihampir semua lini kehidupan penduduk dunia, ada pada dominasi mereka. Jumlah yang sedikit, bukan berarti tak berkualitas. Lebih dari 250 Nobel telah disabet oleh komunitas mereka. Bangsa kita yang jauh lebih banyak penduduknya, baru mampu meraih tiga Nobel.

Ya, hampir mirip dengan kondisi pemuda saat ini di negeri kita, minoritas. Bedanya pada kualitas Sumber Daya Manusianya. Untuk itu, gerakan regenerasi pemuda Indonesia saat ini adalah dengan memperhatikan penuh aspek kualitas ketimbang kuantitasnya. Proses penggodokan generasi yang militant, pelak harus dimiliki oleh setiap mesin pencetak pemuda-pemuda pemimpin masa depan. Regenerasipun sudah mesti tidak sekedar dimulai dari usia pemuda. Pembauran para pemuda-pemudi berkualitas, tentu kelak menghasilkan benih-benih regenerasi yang lebih dahsyat lagi. Oleh karenanya, peran pemudi didalam proses regenerasi kepemimpinan masa depan adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sejarah telah banyak pula membuktikan bahwa dibalik manusia-manusia besar dalam setiap perjalanan sejarah dunia, ada tangan-tangan lembut yang berperan besar dalam mendorong lahirnya para Pahlawan di pentas dunia. Menjadi penting bagi peran pemudi, agar faham bagaimana cara mencetak rombongon kepemimpinan dimasa depan. Sebagai contoh, tingginya kualitas SDM kaum Yahudi adalah berasal dari sebuah proses pembentukan kecerdasan yang dimulai sejak masih dalam kandungan. Perhatian terhadap makanan, komunikasi, serta perilaku sang ibu sangat diperhatikan, dengan tujuan melahirkan generasi atau keturunan yang jenius. Setelah lahirpun, pola pembinaan dan pengembangan anak, ditempa dengan suasana yang telah serba disetting, output yang diharapkan tidak saja kemampuan untuk menjadi Ilmuwan, tetapi kemampuan bela Negara pun diberikan. Ya, tentu pola penyiapan generasi tangguh masa depan tidak terlepas pula dari keterlibatan Negara yang paling bertanggung jawab dalam hal ini.

Ketujuh daya hidup diatas menjadi penting bagi para pemuda dalam kembali berperan didalam proyek penyelamatan bangsa. Kalimat yang semoga tidak berlebihan di lontarkan dari Benedict Anderson, bahwa “Sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya” kaum muda merupakan actor penggerak sejarah Bangsa Indonesia. Maka, masa kini dan masa datang jangan sampai predikat itu kehilangan elanvitasnya, landscape sejarah untuk para pemuda terbuka lebar, tinggal masalah apakah dorongan kemauan untuk bertindak itu kuat, atau kesadaran itu yang masih telalu redup? kitalah; pemuda, yang paling tahu jawabannya.

* Baktinusa UNS

Iklan
By baktinusaugm Posted in Opini