Living with Burden, No, Trust

“When we are trustworthy people can rely on us. We can be counted on to do what we say we will do. If we make commitments, we follow through on them.

Being trustworthy also means that our outer words are aligned with our intentions. We seek to maintain a level of transparencythat lets other people feel clear about who we are and what they can expect from us. We treat the trust of others as a sacred gift, knowing that in trusting us they make themselves vulnerable and that we have the power to harm them.

Being trustworthy doesn’t mean we will never let others down. Rather, it is an attitude and a pattern of behavior that honors the trust placed in us” – wisdom commons.


Setiap manusia yang lahir tentunya memiliki tujuan dan harapan. Apa tujuan kita lahir? Untuk apa kita hidup?

Akhir akhir ini saya sering berpikir bahwa sebenarnya yang kita lakukan selama hidup akan lebih berarti jika kita melakukan sesuatu dengan tujuan untuk kebaikan orang lain. Beribadah dan membuat diri lebih baik itu sudah jadi kewajiban, lantas hanya itu saja kah kita hidup? Layaknya zakat, akan lebih baik lagi kalau kita melakukan infaq dan sedekah ditambah zakat.

Karena saat kita melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain, kita juga akan merasakan manfaatnya secara otomatis. Konsep ini lah yang harus digunakan dalam conceptual framework policy making. Bayangkan jika semua orang bekerja untuk satu sama lain bukan untuk kepentingan sendiri, tidak perlu takut lagi kita dengan para kapitalis.

Logika nya seperti ini, sejak kita dilahirkan sampai kita hidup sekarang pernahkah anda berpikir bahwa kita tidak bisa hidup sendiri? Bahwa sesungguhnya orang2 yang mendukung eksistensi kita menaruh investasi dalam diri kita? Bahwa apapun yang terjadi kita masih memiliki “hutang” yang harus dilunasi. Orang tua kita jelas punya peran penting dalam hal ini. Orang tua kita percaya bahwa kita akan jadi yang terbaik. They trust their children and hope that they will exceed themselves. They invest a lot in our life. Does we have what it takes to be trustworthy in this scenario? Have we done something that actually “pay” all the things our parents had done? We might think about it.

Selama kita hidup, selain orang tua makin banyak orang juga yang percaya bahwa kita sebagai generasi muda akan menjadi generasi penerus. Generasi lampau mempercayai kita untuk mengambil alih dimasa depan nanti. Kita mendapatkan berbagai macam privilege sekarang. Mendapatkan beasiswa, kuliah di PTN, sekolah negeri, subsidi pemerintah, dan lain lain.

Dalam kasus beasiswa, sebagai yang didanai tentunya kita punya kewajiban juga. Donor pasti memiliki interest dan mereka berusaha menginventasikan interest nya lewat orang2 yang terpilih yang diharapkan dapat menjadi perwujudan dari interest yang mereka investasikan. Kuliah di PTN jelas jelas kita mendapat subsidi. Bayar lebih murah karena masyarakat membayar pajak dan pemerintah juga memberikan fasilitas dan SDM nya. Artinya kita diberi kemudahan dari berjuta-juta masyarakat dengan harapan bahwa kita yang kuliah dengan uang rakyat ini menjadi jebolan yang sukses dan mampu give back ke society. Malu lah kita yang sudah mendapat subsidi tapi hanya berpikir bahwa yang kita lakukan dan yang kita dapat adalah 100% dari kita sendiri. Salah. Semua akibat masyarakat, komunitas, society yang mampu membuat suasana kondusif untuk kita hidup, belajar, dan berbakti. Mereka mempercayai kita, dan sepatutnya kita menjadi orang yang dapat dipercaya. Simple, namun berat.

Ingatlah bahwa kita tidak hidup sendiri dan banyak orang yang percaya bahwa generasi muda adalah generasi yang lebih baik. Maka emban amanah tersebut dan jadilah yang terbaik.

to be trusted is a greater compliment than to be loved

By: Raden Handi Dwiono, mahasiswa FK UGM 2010

credit: http://radenhandi.tumblr.com/post/52375116216/living-with-burden-no-trust

Iklan