Mengguga(H) Partai Dakwah! (Bagian Kedua)

Ketika Zona Nyaman menjadi Ancaman!

Pada dasarnya tragedi yang menimpa LHI tidaklah terlalu signifikan menghancurkan sistem penjagaan kaderisasi partai. Kader masih terlihat cukup solid meski pun tengah ditimpa permasalahan yang sangat berarti. Dalam hal ini, harus diakui memang PKS cukup diuntungkan dengan sistem jama’ah yang mengedepankan kepercayaan kepada pemimpin jama’ah –yang sekaligus pemimpin partai- dalam menentukan berbagai macam kebijakan bagi setiap kader meski pun diantara mereka tidak tahu maksud dan tujuan yang melandasi kebijakan tersebut. Sikap inilah yang selama ini terus dipertahankan hingga ia telah mengakar kuat dalam aktivitas jama’ah.

Namun di lain kesempatan, justru kondisi tersebut memiliki dampak yang sangat signifikan. Arif Munandar (2011: 6) dalam disertasinya pun mengakui;  Sebagian kalangan di PKS ”menggunakan” kedua doktrin tersebut untuk melakukan langkah-langkah pragmatis dengan argumentasi akomodasi politik demi kemaslahatan dakwah, walaupun kelompok lain menilainya absurd dan melenceng dari jatidiri partai. Selain itu, meminjam istilah Benedict Anderson tentang state-qua-state, maka kita akan menilai bahwa kondisi jama’ah tarbiyah hari ini mengalami jama’ah-qua-jama’ah, yang melihat bahwa kekuatan-kekuatan kader sebagai determinan sangat minor dalam pembelajaran pengambilan keputusan, karena sifat “sakralitas ketergantungan” kader terhadap elitejama’ah, seakan telah melumpuhkan pengembangan potensi kader untuk terlibat aktif dan mempelajari lebih jauh tentang pengambilan sebuah keputusan yang bersifat strategis.

Hal ini telah mengakibatkan demografi intelegensia jama’ah tarbiyah saat ini –meminjam istilah Lawson- bagaikan struktur piramida. Ditingkat elite -yang hanya segelintir pada bagian atas- mengalami penajaman secara intelektual dan semakin terbukanya akses akumulasi kapital, namun terjadi pengeroposan intelegensia ditingkat kader –yang sangat determinan-. Disaat yang seperti inilah, jama’ah akan mengalami pengeroposan re-generasi kualitas elite dimasa mendatang, dan semakin bergantung pada elite saat ini.

Jika kita mengambil konsepsi Foucauldian tentang genealogi yang berusaha mengidentifikasi hal-hal yang menyempal (accidents), mengidentifikasi penyimpangan-penyimpangan yang kecil (the minute deviations)’. Genealogi memfokuskan diri pada retakan-retakan, mempelajari keadaan-keadaan sinkronik (perubahan kondisijama’ah pada saat-saat tertentu) dalam kerangka waktu yang diakronik (jangka waktu perjalanan dakwahjama’ah yang ‘lama dan berkesinambungan) maka kita akan melihat  kondisi Jama’ah mengalami perubahan yang sangat signifikan ketika memasuki pasca-reformasi terjadi reorientasi gerakan yang sangat berbeda. Pada fase ini –meminjam pendapat Airlangga P (2013)- gagasan terhadap ideologi Tarbiyah dapat terseleksi, mengalami proses deviasi atau menjelma menjadi sebuah praktik politik yang berbeda dengan ide awalnya, yang mana hal itu sangat ditentukan oleh pertemuan atau perselisihan kepentingan dari aktor (elite partai) yang mengusungnya dengan koalisi sosial yang mereka bangun. Sehingga, dalam pemahaman akan kontestasi diskursus Ideologi Tarbiyah saat ini tidak melupakan bagaimana bias kepentingan ekonomi-politik mempengaruhi praksis ideologi yang bekerja dalam kontestasi politik tersebut, serta kendala konkret apa yang muncul dari implementasi gagasan dalam realitas politik sangat mudah disitir oleh sebagian aktor untuk merekonstruksi wacana baru bagi setiap kader demi penyelamatan aktivitas politik elite partai itu sendiri. Hal ini sangat jauh berbeda ketika jama’ah Tarbiyah belum memasuki ranah politik praktis ketika aktivitas dakwah tidak disamakan dengan orientasi elektabilitas.

Ada dua hal yang mendasari perihal tersebut, yaitu; (1) Secara tidak sadar, sistem jama’ah Tarbiyah memberikan peluang untuk menciptakan ideologi Tarbiyah sebagai satu-satunya asas tunggal yang telah menciptakan ‘sakralisasi struktur kelas’ tersendiri yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan peranan-peranan grass-root dalam mempelajari peta politik dan pembelajaran pengambilan sebuah keputusan. Sistem seperti inilah yang pada akhirnya telah menciptakan kader terjebak pada kesadaran teknokratis yang telah mengondisikan ideologi untuk mempertahankan ‘struktur’ yang menekankan pada kelestarian sistem (system maintenance) yang dibuat dan dirubah oleh elite itu sendiri. Sistem ini juga memberikan peluang para elite untuk memberikan imbalan-imbalan sosial bagi mereka yang menjamin kesetiaan massa pada sistem tersebut.

(2) Untuk menegaskan identitas kelompok, sistem kaderisasi PKS memagari kadernya –meminjam istilah Emmanuel Sivan- dengan group dan grid. Group berguna untuk menegaskan komitmen terhadap kelompok, sedangkan grid berguna untuk menyensor interaksi sosial anggota dengan dunia luar komunitas mereka. Sikap defensif dan resisten terhadap orang yang mengkritisi jama’ah dan pandangan yang bersifat inward lookingbertujuan untuk menjaga kemurnian kelompok dari “penetrasi dunia luar” yang dianggap akan mengganggu stabilitas jama’ah.

Hal inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan “kegamangan ideologi” ketika  proses deviasi ideologi yang terjadi dikalangan kader mengakibatkan banyak diantara mereka yang secara tidak sadar menganggap bahwa ideologi Tarbiyah adalah sesuatu yang mutlak dan bersifat secret, padahal ideologi Tarbiyah adalah jalan untuk memahami Islam yang syumuul dengan cara mempelajari suatu kondisi sosial tertentu, untuk menciptakan suatu strategi –berdasarkan syari’at- dalam rangka mencapai daulah Islamiyah.

Mari Kita Renungkan!

Pada dasarnya fenomena diatas sudah diprediksi oleh para kader partai. Sebagaimana yang dikutip oleh Arif Munandar, Yon Machmudi (2008: 219) mengungkapkan;  berbagai manuver yang dilakukan PKS sebagai konsekuensi doktrin ”al–jama’ah hiya al–hizb wa al–hizb huwa al– jama’ah”, maupun ”yakhtalituna walakina yatamayyazun” (”bercampur namun berbeda”), menyisakan dilema, bahkan problematika, bagi PKS dan para kadernya. Sebagian kalangan di PKS ”menggunakan” kedua doktrin tersebut untuk melakukan langkah-langkah pragmatis dengan argumentasi akomodasi politik demi kemaslahatan dakwah, walaupun kelompok lain menilainya absurd dan melenceng dari jatidiri partai.

Oleh karena itu, penulis ingin memberikan sebuah gagasan tentang (1) bagaimana cara seorang kader dapat memahami kembali bahwa “al-jama’ah hiya al-hizb wa al- hizb huwa al-jama’ah” bukanlah suatu hal yang bersifat tsawabit atau-pun mutlak. Melainkan harus dimaknai sebagai sebuah strategi dalam berpolitik, yang dalam pemaknaan asas-nya tetap harus dibedakan diantara keduanya dengan sebuah pemahaman bahwa  partai adalah wajihah yang bersifat mutaghoyyirot  tidaklah sama pemaknaannya dengan jama’ah yang bersifat tsawabit. Dengan begitu, jama’ah dapat berfungsi sebagai social control dan checks and balances terhadap kinerja partai serta memberikan ruang bagi setiap kader untuk mengkritisi kinerja partai itu sendiri. Sebab, bagaimana pun juga dakwah diranah parlemen sangatlah dibutuhkan dan masih memiliki harapan untuk sebuah perbaikan selama partai dakwah selalu berbenah diri, membangun kolektivitas gerak, dan membuka ruang partisipasi maupun menerima berbagai-macam kritik dan saran yang membangun sebagai sebuah batu loncatan untuk perbaikan dakwah di parlemen.

(2) Sebagaimana Arif Munandar (2011) mengungkapkan; struktur organisasi PKS yang cenderung oligarkis berpotensi memunculkan becalming, yaitu situasi di mana para kader mengalami penurunan komitmen dan motivasi secara signifikan, dan terjadi pergeseran tujuan (goal displacement) pada sebagian dari mereka. Oleh karena itu, merujuk pada pendapat Osterman (2006), Arif Munandar merekomendasikan agar perbaikan/penyempurnaan proses tarbiyah juga diarahkan agar tarbiyah dapat menjadi media yang efektif untuk membangun dan menguatkan sense of capacity and agency, yaitu keyakinan diri para kader tentang kapasitas pribadi dan peran strategis mereka terhadap pengambilan keputusan dalam organisasi. Di samping itu, dilakukan pula langkah-langkah untuk menghidupkan, dan kemudian menguatkan, budaya diskusi dan kontestasi gagasan secara internal, sehingga para kader menjadi lebih berdaya ketika berhadapan dengan dominasi elit. Merujuk pada tipologi spiritualitas organisasi (Pina e Cunha et.al., 2006), tarbiyah harus difungsikan untuk mentransformasi kader dari kondisi dependen menjadi independen. Dengan konteks sifat organisasi yangspiritually informed, PKS akan berubah dari the soulful organization menjadi organisasi holistik (the holistic organization), di mana organisasi memiliki perhatian yang integral terhadap kebutuhan manusia, dan para kader memiliki pemaknaan yang mendalam tentang peran dan tugas mereka sebagai bagian dari organisasi. Dalam hal ini Arif Munandar  berpendapat bahwa membangun budaya yang lebih terbuka secara internal jauh lebih bermakna dan kontributif terhadap pengokohan organisasi PKS ketimbang mewacanakan “Partai Terbuka”.

Dan yang terakhir, -penulis mengutip pendapat Arif Munandar- melalui berbagai macam gagasan diatas diharapkan Partai dan Jama’ah mampu mendewasakan para kadernya dengan membangun kematangan emosional dan spiritual,  menguatkan internal locus of control, serta membekali mereka dengan kemampuan belajar (learning) yang prima, yang berpusat pada keterampilan merespon setiap persoalan dengan melontarkan pertanyaan “What is wrong with us?” Dalam sebuah iklim demokrasi internal yang sehat dan bertanggung jawab, dan eksistensi kader-kader yang matang dan dewasa, pengelompokkan, faksionalisasi, dan konflik internal justru menjadi sistem check and balances atau mekanisme self-correction yang sungguh efektif membuat partai selalu terjaga untuk selalu melakukan observe dan assess yang mendalam dan akurat, sebelum merancang kebijakan dan langkah, dan kemudian mengimplementasikannya. Dengan demikian, daripada menyia-nyiakan sumber daya untuk menghujat kepastian yang bernama pengelompokkan, faksionalisasi, dan konflik internal, lebih baik membangun kepantasan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya dari ketiga hal tersebut.

Billahi Fii Sabiilil Haq..

By: Fachry Aidulsyah, Mahasiswa FISIPOL UGM 2010

Credit: http://www.facebook.com/notes/fachry-aidulsyah/menggugah-partai-dakwah-bagian-kedua/10151976528844622

Iklan
By baktinusaugm Posted in Opini