Udah Amanah, Belum?

5 Juni 2013

Bismillahirrahmanirrahiiim

Tulisan ini dibuat, ketika perjalanan darat dari Sumatera Barat ke Jakarta, bersama rekan-rekan panitia FIM (Forum Indonesia Muda) selepas dari kegiatan pelatihan FIM 14B di Bukittinggi.

Barusan saya abis tidur, dan ngebuka inbox di handphone yang belum sempat ‘benar-benar terbaca’ dalam beberapa hari belakangan ini. Ada 1 sms dari salah satu teman yang membuat saya agak tersentak, kurang lebih isinya seperti ini : ‘teman-teman, jangan lupa kita belum nyetor tulisan hasil training value BA (read : Beasiswa Aktivis) kita ttg trust-worthy yaaaa, udah deadline nih, ditungguu’.

Dweeeng, yak! Walaupun sms ini kelihatannya udah di ‘read’ dalam hp saya, tapi memang dikarenakan kegiatan yang padat banget belakangan ini membuat saya kadang-kadang suka enggak aware membaca isi pesan tersebut, kemarin nge ‘read’ nya cuma formalitas biar hp ngga kedip-kedip lagi.

Jadi, sekarang mau nulis note tentang trustworthy atau lebih gaul nya dibilang amanah ini buat ngegugurin kewajiban doang? Enggak. Eh bentar, enggak boleh bohong.. Awalnya sih sempet mikir gitu, buat aja sekedarnya, yang penting udah beres kewajiban, tapi keinget lagi apa aja yang udah di amanahkan dari beasiswa yang saya dapetin itu. Meeeeeeenn, lo dapet beasiswa yang namanya beasiswa aktivis! Enggak malu sama keberatan nama? Jadi, saya memutuskan untuk menulis ini dengan benar-benar serius, yang bertujuan untuk sama-sama sharing dengan teman-teman, semoga tulisan ini bisa bantu kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik, itu minimal! Tulisan ini enggak ada maksud untuk menggurui, malah cenderung lebih banyak saya memberikan contoh dari kehidupan sehari-hari, untuk menjadi media pembelajaran bersama-sama, biar kita bisa saling mengingatkan.  Saya termasuk orang yang suka lalai terhadap amanah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja, baik yang termaafkan maupun yang tidak termaafkan. Daaannn, semoga teman-teman berkenan, maaf pembukaannya agak bertele-tele :p

Waktu itu yang jadi trainer kami adalah Mas Romi, divisi pendidikannya Dompet Dhuafa, mantan Presiden BEM KM nya UGM tahun jebot, dan beliau adalah temennya kakak ipar saya, jadi setiap ketemu Mas Romi selalu ngomong “Dir, salam ya untuk Ivan!”. Mas Romi memulai training value kali ini dengan kata-kata yang menurut saya sakti banget untuk nampar diri sendiri : “Teman-teman sekalian disini, tidak akan kami berikan training mengenai dasar-dasar kepemimpinan, karena kami yakin, malah teman-teman sendiri disini sudah sering memberikan materi mengenai kepemimpinan. Jadi kami disini selaku divisi pendidikan Dompet Dhuafa memilih untuk memberikan training value dengan nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada para leader-leader disini, di sesi ini, kami ingin menyampaikan nilai dari Amanah”.

Amanah. Salah satu sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, trus tiba-tiba Mas Romi bilang ‘tapi sekarang sifat Fathanah nya lagi dicoret dulu’ hehehe, ampun ampun cuma bercanda, entar yang kader malah komen yang tentang ini :p.

Amanah seakan mudah banget diucapkan, tapi amanah adalah sesungguhnya tantangan terbesar yang dimiliki setiap manusia, even itu seorang Presiden atau seorang Sekjen PBB pun, kita semua masih harus belajar lebih lebih lebih banyak tentang amanah. Amanah itu salah satu hal penting yang akan kita pertanggungjawabkan ga hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Amanah kita kepada agama kita, pekerjaan kita, tugas-tugas kampus kita, organisasi kita, juga amanah sebagai anak dari orang tua kita, dan amanah-amanah lainnya. Gimana cara kita menjaga amanah itu, itu yang berat. Entah nanti ditengah jalan tiba-tiba nemu hal yang asyik, yang bikin kita lupa sama amanah-amanah kita sebelumnya.

Kalau ngomongin lebih detail lagi, saya sebagai penerima manfaat dari Beasiswa Aktivis kalau dipikir-pikir beasiswa ini didapet dari uang umat, dulu saya sempet mikir uang ini mau saya pake secara random, ditabung buat beli gadget-gadget heboh, atau buat makan-makan sama temen-temen. Tapi karena keinget dari siapa beasiswa ini berasal dan alasan mengapa saya berhak mendapatkan beasiswa ini, seperti ada seseorang yang bilang ke diri ini kalau uang beasiswa ini harus digunakan sebaik-baiknya untuk Dira. Untuk menunjang aktivitas dikampus, untuk menunjang kehidupan, bukan untuk nge-hedon. Dan dari sinilah kami ditantang untuk setiap bulannya mulai merinci keuangan beasiswa digunakan untuk apa saja. Malu lah, selama ini suka banget demo-demo dijalan minta transparansi keuangan dan harta para pejabat nasional, tapi sendirinya enggak mau merinci as simple as Rp 800.000 dari Beasiswa Aktivis.

Ngomongin amanah juga bukan hanya bicara tentang uang. Mungkin diantara kita ada yang jadi pimpinan organisasi ditempat masing-masing, mari sekarang kita berkaca sama diri sendiri, udah becus belom jadi pemimpin tersebut? Udah ngerasa bisa membawa kebaikan dan manfaat terhadap organisasi kita tersebut? Udah layak disebut pemimpin? Apa hanya karena lagi galau akhirnya ninggalin kerjaan-kerjaan kita di organisasi? Apa hanya karena abis putus cinta terus pengen langsung pulang kampung ninggalin kerjaan-kerjaan organisasi di kampus? #eaaa

Enggak hanya itu, kadang penyakit aktivis jaman sekarang adalah mau nya fokus organisasi doang sampai lupa tujuan pertama masuk ke jenjang universitas untuk kuliah. IP yang terlalu pas-pas an (yahhh, walaupun IP bukan segala-galanya, tapi kalo kata Bapak saya, seleksi pertama administratif untuk melamar pekerjaan adalah IP), atau tugas-tugas kampus yang dibikin numpuk sampai akhirnya kita jadi deadliners adalah contoh-contoh paling konkret, akhirnya jadi sering ngebolos, paling parah kalau udah pake jalur titip absen, cikal bakal korupsi tuh.. 😦

Tidak hanya itu, terfikir enggak sih dibenak teman-teman akan amanah kita sebagai anak dimata orang tua kita? Ketika kita dilepas merantau oleh orang tua kita *ga mesti yang merantau juga sih*, pasti ada impian dari orang tua kita agar minimal kita jadi pribadi yang mandiri, belajar manage hidup lebih baik, bisa menjaga diri, dan sebagainya. Sampai detik ini, saya punya kebiasaan untuk setiap hari nya menghubungi orang tua untuk memberitahukan bahwa hari ini saya baik-baik saja. Tujuannya apa? Minimal  agar hati orang tua kita tenang, tau bahwa anak-anaknya masih pada ‘track’ yang benar, karena buat kita-kita yang belum menikah, kita masih menjadi tanggung jawab orang tua kita, so that kita harus bantu orang tua kita untuk bisa terus menjaga amanah tersebut. Enggak main-main loh amanahnya yang ini, orang tua kepada anak, dan anak kepada orang  tua nya.

Amanah itu ibarat sebuah pisau, bisa melukai atau menyelamatkan. Kalau kita adalah orang yang siap menerima amanah, maka kita juga harus siap menjaga amanah tersebut, jangan cuma ‘anget-anget’ di awal aja. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita, karena sebetulnya waktu saya nulis ini pun, jadi merinding sendiri. Jadi kepikiran sama semua hal yang udah kita kerjakan, jadi melihat lagi hari-hari kedepan yang masih dengan penuh tantangan amanah. Tugas-tugas kuliah yang belum kelar, minggu depan udah UAS, sebentar lagi mau KKN, kerjaan di organisasi yang kadang suka dianggurin, dan lainnya.

Ayooo, kita saling mengingatkan 🙂

By: Mandira Bienna Elmir, mahasiswi FH UGM 2010

Credit: http://www.facebook.com/notes/mandira-bienna-elmir/udah-amanah-belum/10151769922606414

Iklan