Membiasakan Diri Profesional

by: Pipit Suprihatin, penerima manfaat beasiswa aktivis 3

Hasil itu tidak terlalu penting, yang terpenting yaitu proses menuju keberhasilan. Slogan itu sudah sering terdengar di telinga, yang mengisyaratkan bahwa proses itu lebih berharga. Karena dalam proses itulah terangkum adanya ikhtiyar (usaha) dan yang terpenting yakni proses pembelajarannya.

Menjalani usaha atau proses pun tidak bisa begitu saja, asal terlaksana, namun butuh yang namanya professional. Dalam KBBI –Kamus Besar Bahasa Indonesia-, professional berarti memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Dalam pengertian lain bisa berarti ahli dalam bidangnya. Karena sejatinya setiap manusia yang terlahir selalu diberikan potensi yang lebih dari yang lain. Potensi itulah yang sebaiknya dikembangkan sehingga nantinya bisa expert dalam bidangnya tersebut.

Namun professional setiap orang itu tergantung dari usaha yang dilakukannya. Mulai dari membiasakan dari hal yang terkecil, menjalankan sesuai peraturan yang berlaku.

Jika kita amati, baik organisasi di level kampus bahkan sampai pada tataran pemerintah negara, masih banyak  yang belum professional. Contoh sederhananya, misalnya menempatkan seseorang pada posisi yang tidak sesuai bidangnya. Hal ini akan sangat berdampak pada kinerja dan pada kebijakan yang diambilnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk belajar menyesuaikan diri dengan posisinya, jika memang tidak sesuai bidangnya. Namun kebanyakan justru hasilnya yang tidak optimal, karena ketika sudah berada pada posisi tertentu yang harus dilakukan sudah prakteknya, kesempatan belajarnya lebih terbatas akhirnya cenderung dipaksakan.

Ada beberapa hal supaya bisa bekerja dengan professional, di antaranya:

  1. Faham dengan pekerjaannya

Yaitu memahami semua sisi dari pekerjaanya, karena tanpa mengetahui detilnya maka dapat berakibat ketidakprofesionalan.

  1. Loyal

Hal ini dapat mendorong kita untuk lebih total dalam menjalankannya.

  1. Integritas

Integritas yang dipunyai oleh seorang professional akan membawa kepada penyadaran diri bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan, hati nurani harus tetap menjadi dasar dan arah untuk mewujudkan tujuan.

  1. Kerja keras

Untuk membiasakan diri agar professional maka perlu dilatih dengan kerja keras dan komitmen.

  1. Komitmen

Seorang profesional harus memiliki komitmen tinggi untuk tetap menjaga profesionalismenya. Artinya, seorang profesional tidak akan mudah tergoda oleh bujuk rayu yang akan menghancurkan nilai-nilai profesionalnya. Dengan komitmen yang dimilikinya, seorang akan tetap memegang teguh nilai-nilai profesionalisme yang ia yakini kebenarannya.

Dalam puisi Sapardi Djoko Damono yang tertuang pada Sajak November, mengingatkan pada kita:

Kemarin giliran kami,

tapi besok mesti tiba giliranmu.

Kalau saja kau masih mau tahu ucapan terima kasih

terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak

hidup dan mengerti makna kemerdekaan.

Puisi di atas telah mengingatkan bahwa kita (pemuda) lah yang akan menggantikan tampuk kepemimpinan bangsa ini, di mana pun dan apapun profesi kita nantinya. Maka dari itu, agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju dan berkualitas maka para pemudanya (calon pemimpin masa depan) harus dididik lebih disiplin agar memiliki jiwa yang professional dengan berbekal ilmu, sehingga akan maju dan berkembang di semua sektor kehidupan.

Iklan